Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama
Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama

Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama

Berikut.id – Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama. Teman, apakah kalian memiliki teman yang berbeda agama dengan kalian? Apa yang kalian lakukan ketika teman tersebut ingin melakukan ibadahnya?

Sebagai masyarakat yang hidup dilingkungan yang beraneka ragam sudah seharusnya kita memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan tersebut.

Perhatikan cerita gambar berikut!

Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama

 

Pernahkah kalian mengalami hal seperti cerita tersebut di sekolah atau di rumah?

Dalam berteman kalian tidak boleh pilih-pilih karena adanya perbedaan di antara kalian. Perbedaan agama, suku atau yang lain bukan penghalang untuk mewujudkan persaudaraan. Persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama manusia, dan persaudaraan sesama warga bangsa. Sebab, keragaman sebagai keniscayaan (sunnatullah) dan anugerah yang harus disyukuri sekaligus menjadi kekuatan untuk maju bersama.

 

Menghormati dan Menghargai Orang yang Berbeda Agama

Sikap terbaik dalam keragaman dan perbedaan adalah saling menghargai dan menghormati yang dikenal dengan toleransi. Toleransi diwujudkan dengan:

1. Memberikan kebebasan kepada orang lain.

2. Mengakui hak setiap individu.

3. Menghormati keyakinan orang lain.

4. Saling mengerti.

 

Contoh Toleransi Rasulullah saw.

a. Nabi Muhammad saw. adalah orang yang paling perhatian terhadap keadaan pengemis tua Yahudi yang tinggal di salah satu sudut pasar di Madinah. Setiap hari, beliau datang untuk menyuapi pengemis tersebut, selain usia yang sudah tua, ia juga tidak bisa melihat (tunanetra). Setiap Nabi Muhammad saw. datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu memanggil-manggil Muhammad sebagai orang yang jahat dan harus dijauhi.

Suatu saat Yahudi tua itu terkejut, ketika tangan yang biasa menyuapinya berbeda. Tangan itu adalah tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang selalu ingin mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. dalam segala hal. Saat itu, pengemis Yahudi mendapatkan kabar bahwa tangan yang selama ini menyuapinya telah tiada, yakni tangan Nabi Muhammad saw.

Baca Juga :  Membuat Peta Pikiran untuk Merangkum

 

b. Pada suatu hari Rasulullah saw. menjumpai rombongan yang membawa jenazah lewat di hadapan beliau. Nabi Muhammad saw. pun berdiri untuk menghormati. Sahabat beliau segera memberi tahu dengan nada seperti protes, “Itu jenazah orang Yahudi, ya Rasulullah!” “Bukankah ia juga manusia?” jawab Rasulullah saw. Dengan jawaban seperti ini Rasulullah saw. seolah mengingatkan sahabat bahwa tiap orang pantas memperoleh penghormatan, tidak melihat status sosial dan agamanya, bahkan ketika manusia itu telah meninggal dunia.

 

Toleransi dan Batasannya

Saling menghormati atau toleransi antar umat beragama ada batasnya. Toleransi jangan sampai mengorbankan prinsip-prinsip keyakinan (akidah) agama.

Dikisahkan suatu hari kaum musyrik Makkah menawarkan cara damai kepada Nabi Muhammad saw. Mereka usul agar Nabi Muhammad saw. bersama umatnya mengikuti keyakinan mereka dan mereka pun akan mengikuti keyakinan umat Islam. “Kami menyembah Tuhanmu hai Muhammad, setahun. Dan kamu menyembah tuhan kami setahun. Kalau agamamu benar, kami mendapat keuntungan karena kami juga menyembah Tuhanmu dan jika agama kami yang benar, kamu juga memperoleh keuntungan.”

 

Rasulullah saw. menolak usul orang musyrik, karena tidak mungkin dan tidak masuk akal bila terjadi penyatuan agama. Tidak mungkin pula perbedaan-perbedaan di antara beberapa agama disatukan dalam hati seseorang yang ikhlas terhadap agamanya. Peristiwa ini yang menjadi sebab turunnya Q.S. Al-Kāfirūn/109:1-6

 

 

Q.S. Al-Kāfirūn/109:1-6 merupakan penegasan bahwa tidak ada kompromi dalam hal akidah (keimanan), juga tidak boleh ada kerjasama yang mencampurbaurkan dua akidah dan ibadah yang berbeda.

 

Pesan Moral

 

Artinya:

Sesungguhnya ilmu diraih melalui belajar dan kelembutan sikap diraih dengan terus berupaya untuk bersikap lembut. Barang siapa berupaya menggapai kebaikan niscaya dia akan diberi kebaikan tersebut, dan barang siapa menjaga diri dari keburukan niscaya dia akan dijaga dari keburukan itu.
(HR. Aṭ-Ṭabrani)

Baca Juga :  Bacaan “Suka dan Tidak Suka”

 

Nah, teman dari kisah-kisah yang sudah kalian baca diatas apa saja yang bisa kalian pelajari?

Ya, Perbedaan agama, suku atau yang lain bukan penghalang untuk mewujudkan persaudaraan. Persaudaraan sesama muslim, persaudaraan sesama manusia, dan persaudaraan sesama warga bangsa.

Semoga bermanfaat..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.